Pelajaran Penting dari Jabal Uhud

  • 301
    Shares

GUNUNG Uhud atau yang dikenal dengan jabal uhud, disitulah terjadi peristiwa peperangan yang besar. Yang menunjukkan keperkasaan Rasulullah saw dan keteguhan serta kesabaran beliau atas luka yang diderita pada peperangan tersebut. Pada waktu itu wajah beliau yang mulia terluka dan beberapa gigi beliau patah serta tubuh beliau berdarah-darah.

Sahal bin Saad menceritakan kepada kita tentang luka yang diderita beliau. Ia berkata: “Demi Allah Swt, aku benar-benar mengetahui siapakah yang mencuci luka Rasulullah saw, siapakah yang menyiramkan airnya dan dengan apa luka itu diobati.” Ia melanjutkan: “Fathimah ra, putri beliaulah yang mencuci luka tersebut, sementara Ali bin Abi Thalib Radhiallahuanhu menyiramkan airnya dengan perisai. Namun ketika Fathimah radhiyallahu anha melihat siraman air tersebut hanya menambah deras darah yang mengucur dari luka beliau, ia segera mengambil secarik tikar lalu membakarnya kemudian membungkus luka tersebut hingga darah berhenti mengucur. Pada peristiwa itu gigi beliau patah, wajah beliau terluka dan kepala beliau terkoyak lebar.” (HR. Al-Bukhari)

Al-Abbas bin Abdul Muththalib ra menceritakan kepahlawanan Rasululloh saw dalam peperangan Hunain. Ia berkata: “Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Rasulullah saw justru memacu bighalnya ke arah pasukan kaum kafir, sementara aku terus memegang tali kekang bighal tersebut supaya tidak melaju dengan cepat. Saat itu beliau berkata: “Aku adalah seorang nabi bukanlah pendusta. Aku adalah cucu Abdul Muththalib.” (HR. Muslim)

   Sementara itu, penunggang kuda yang gagah berani, yaitu Ali bin Abi Thalib ra menceritakan keberanian Rasulullah saw sebagai berikut: “Apabila dua pasukan sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun berlindung di belakang Rasululloh shallallahu alaihi wasallam, tidak ada seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim III / no.1401)

Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena membela agama Allah . Dan tidak ada seorangpun yang mendapat teror seperti itu. aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena menegakkan agama Allah . Dan tidak seorangpun yang mendapat gangguan seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan pun yang layak untuk dimakan manusia kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak Bilal.” (HR: At-Tirmidzi dan Ahmad)

Aisyah ra menuturkan: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak meninggalkan dinar, tidak pula dirham, tidak meninggalkan kambing, tidak pula unta. Beliau tidak mewasiatkan harta apapun.” (HR. Muslim)