Memahami Hadis Shahih

  • 2
    Shares

 

SELAIN kitab yang bersumber dari Al-Bukhari, Muslim, Al-
Hakim, masih ada kitab hadis lain yang berisi banyak hadis shahih. Dan
kitab yang paling terkenal ialah kutubus-sittah (enam kitab). Tetapi
sebenarnya jumlah kitab hadis tidak terbatas pada yang enam itu saja. Di
luar yang enam itu, masih banyak sekali kitab hadis yang belum terlalu
dikenal umat Islam. Kitab tersebut tersimpan rapi di berbagai
perpustakaan di pusat negara Islam.
Syeikh Nashiruddin Al-Albani merupakan salah satu di antara
sekian banyak ulama ahli hadis yang melakukan riset untuk memilah
hadis shahih dan hadis dhaif. Karya beliau banyak menghiasi
perpustakaan di dunia Islam, sumber hukum Islam ibarat bahan baku
dari sebuah hidangan. Hidangan akan memenuhi standar gizi dan cita
rasa yang tinggi manakala dibuat dari bahan yang berkualitas. Tentu saja
bukan hanya sekedar bahan berkualitas yang paling menentukan, tetapi
juga keahlian juru masak dalam mengolah dan menentuan kadar setiap
bahan bakunya.
Bila kita hubungkan ilmu hadis dalam perspektif hukum Islam,
maka hadis itu ibarat salah satu bahan baku sebuah masakan. Semakin
shahih suatu hadis akan semakin meningkatkan mutu masakan tersebut.
Selama ini para shahabat, tabiin dan para pengikutnya melakukan
istinbath hukum sesuai dengan nalar mereka masing-masing. Terkadang

antara metode yang digunakan seseorang dengan lainnya berbeda.
Bahkan tidak jarang juga terjadi ketidakruntutan dalam setiap proses
pengambilan kesimpulan itu. Semua itu akibat belum ada pada waktu itu
sistematika baku dalam proses pengambilan kesimpulan hukum.
Kemudian setelah lahirnya imam As-Syafii (150-204 H),
muncul metode yang sangat ilmiah dan profesional yang bisa digunakan
oleh setiap faqih dan ahli syariah dalam proses mengambil kesimpulan
hukum. As-Syafii ialah orang yang pertama kali meletakkan dasar-dasar
fikih, sebuah cabang ilmu yang paling asasi dan esensial dalam masalah
pengambilan kesempulan hukum. Ilmu itu kemudian kita kenal dengan
ilmu ushul fikih.
Mustahil seseorang bisa dikatakan sebagai ulama yang berhak
mengeluarkan fatwa hukum, apabila tidak mengerti ilmu ushul fikih.
Seperti yang juga seringkali kita saksikan sekarang ini, seorang yang
hanya sekedar baca kitab matan hadis, lalu berfatwa mengenai hukum
Islam. Hal ini jelas menyesatkan bahkan merusak tatanan hukum Islam.
Karena dia berfatwa tanpa ilmu, padahal dasar-dasar metodologi
pengambilan kesimpulan suatu hukum tidak pernah dikuasainya, apalagi
ilmu-ilmu pendukungnya.