Membedakan Hadis Shahih dan Dhaif

UNTUK memahami dan membedakan dalil hadis yang berbicara pada tema yang sama namun isinya saling berbeda, maka ada beberapa cara yang bisa diterapkan, antara lain: Cara pertama, Thariqatul Jami, yaitu menggabungkan keduanya sesuai dengan esensi masing-masing dalil. Kedua, Nasikh mansukh, yaitu melihat ke masa atau waktu disampaikannya dalil, dimana yang lebih awal dipastikan lebih kuat dari yang datang lebih dahulu. Ketiga, Al-aam wal khash, yaitu mendahulukan hadis yang lebih erat kaitannya dengan suatu masalah (lebih khusus) dari pada hadis yang bersifat umum. Terakhir, Ar-riwayah, yaitu melihat riwayat untuk menilai derajat keshahihan hadis. Namun penilaian derajat keshahihan suatu hadis bisa saja berbeda antara satu ulama dengan ulama lainnya.

Khusus masalah yang keempat ini bisa kita perjelas dengan keterangan berikut ini, Hadis berbeda dengan Al-Quran yang sudah pasti shahih 100% dan diriwayatkan secara mutawatir (oleh banyak orang) dalam setiap level (thabaqat)-nya. Sedangkan hadis, sebagiannya mutawatir dan selebihnya tidak (hadis ahad). Tapi baik yang mutawatir maupun yang ahad, mungkin saja shahih keduanya. Karena, keshahihan suatu hadis bukan hanya ditentukan oleh jumlah periwayatnya, melainkan diutamakan oleh kualitas periwayatnya atau perawinya.

Bisa saja suatu hadis hanya diriwayatkan oleh satu orang saja pada satu thabaqat, tapi kualitasnya shahih. Tetapi penting juga untuk dipahami bahwa status keshahihan suatu hadis punya standar yang variatif. Seorang ahli hadis (muhaddits) bisa saja punya standar yang berbeda dengan ahli hadis lainnya. Misalnya, Al-Bukhari seringkali berbeda dalam penetapan keshahihan suatu hadis dengan Imam Muslim. Terkadang mereka sepakat menshahihkan suatu hadis, tapi seringkali mereka berbeda pendapat.

Ada banyak hadis yang dianggap shahih oleh Al-Bukhari tapi Imam Muslim mengatakannya tidak shahih. Sebaliknya, banyak juga yang dishahihkan oleh Imam Muslim tapi Al-Bukhari tidak menshahihkannya. Kalau kebetulan keduanya sepakat, dinamakan hadis muttafaqun alaihi.

Di luar kedua imam ahli hadis itu, ternyata masih banyak lagi ahli hadis yang punya otoritas dan kapabilitas untuk menyatakan suatu hadis itu shahih. Hadis shahih selain yang dishahihkan oleh kedua imam itu termasuk bahan baku berkualitas tinggi yang tidak bisa dianggap enteng. Apalagi bila kedua imam itu tidak mencantumkannya di dalam kedua kitab mereka. Seperti yang dilakukan oleh Al-Hakim, di mana beliau seperti meneruskan apa yang telah dirintis oleh Al-Bukhari, karena beliau menggunakan metodologi kritik hadis yang digunakan Al-Bukhari dalam menshahihkan hadis yang oleh Al-Bukhari belum dilakukan.