Aku akan tetap bersama rakyat Indonesia

  • 2
    Shares

“Aku akan tetap bersama rakyat Indonesia, kalah atau menang”

(K’tut Tantri)

Cinta jenis apa yang membuat seorang perempuan kelahiran Skotlandia dan berkebangsaan Amerika untuk turut serta dalam kemerdekaan suatu bangsa yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya?. Bermula dari kegalauan seorang perempuan bernama Murial Pearson yang memutuskan untuk pergi dan menetap di Bali setelah membeli tiket bioskop secara acak dan memutuskan untuk menonton film berjudul Bali: The Last Paradise.

Siapa sangka keputusan spontanitas Murial Pearson, bangsa Indonseia kemudian mengenalnya dengan K’tut Tantri,  membawanya turut andil dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Jika Bung Tomo melakukan agitasi untuk mengobarkan api semangat arek-arek Suroboyo. Perempuan bule ini, mengudara dengan bahasa inggris menyiarkan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam pengantar untuk Revolt in Paradise, Bung Tomo menyampaikan, “Saya tidak akan melupakan detik-detik di kala Tantri dengan tenang mengucapkan pidato di muka mikropon, sedangkan bom-bom dan peluru-peluru mortar berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemancar Radio Pemberontakkan”

 Perjuangan membuktikan kecintaannya terhadap tanah air Indonesia bukanlah tanpa halangan, beberapa kali Tantri di tangkap, dipenjarakan dan diinterogasi panjang di dalam penjara. Keteguhan sikapnya untuk turut berjuang bersama rakyat Indonesia membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo berusaha untuk membebaskannya. Setelah bebas, ia diberi dua pilihan untuk kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau bergabung dengan pejuang Indonesia.

Apa pilihan dari seorang perempuan yang baru saja dibebaskan setelah beberapa hari lamanya disiksa dan diinterogasi panjang di dalam penjara di negri yang bukan tanah airnya?.

K’tut Tantri, wanita ini dengan mantapnya memilih pilihan kedua untuk tetap berada di Indonesia, bersama para pejuang Indonesia. Atas pilihannya, K’tut Tantri dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Dalam siaran tersebut, K’tut Tantri menyeru dalam bahasa Inggris kepada negera-negara lain menceritakan upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Suaranya mengudara tiap malam.

“Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan,” tulis K’tut Tantri dalam Revolt in Paradise.

Pilihannya untuk bergabung dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan itu membuat kalangan pers internasional menjulukinya “Surabaya Sue” atau penggugat dari Surabaya.

Dari kisah K’tut Tantri kita belajar makna sejati dari kemanusiaan. “Kemanusiaan itu” kata Helvy Tiana Rosa, “tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim”. Cinta yang dimiliki Murial Pearson adalah cinta yang menjadikannya manusia. Senyata-nyata manusia yang lengkap dengan keberadaan hati nurani yang menuntunnya untuk turut adil dalam memperjuangkan kemanuasiaan.[octa]