Pernah Ada di Suatu Negeri

  • 2
    Shares

Bismillaah,

Pernah ada di suatu negeri, ketika orang besar nomor dua di negerinya, tidak sanggup untuk membeli sepatu impiannya.

 

Tahun 1851, Carl Franz Bally dan saudaranya Fritz, di basement rumah mereka di Schonenwerd di Distrik Solothurn, Swiss mendirikan usaha sepatu yang diberi label Bally & Co. Usaha ini berkembang dengan cepat keluar Swiss. Sepatu merk Bally ini kemudian melangkah menjelajah Eropa, hingga benua Amerika dan akhirnya tiba di Asia. Kini butik khusus sepatu mewah ini berada di hampir seluruh kota ternama di Amerika Utara.

 

Maret 1980, seorang pria yang pernah memegang jabatan sebagai wakil presiden di sebuah negeri baru saja wafat. Ketika keluarganya membereskan berkas-berkas di meja laki-laki yang baru saja dikebumikan itu, mereka menemukan sebuah potongan iklan koran terbitan akhir tahun lima puluhan yang digunting dengan rapi.

Apa isi potongan iklan itu?

Iklan yang memuat alamat penjual sepatu Bally di Jakarta.

 

Sepasang sepatu impian yang dengan posisi dan jabatannya saat itu, beliau bisa saja meminta orang-orang, pengusaha untuk membelikannya atau memakai uang negara. Tapi tidak dia lakukan.

 

Pernah ada di suatu negeri, ketika sang menteri luar negeri, seorang yang memiliki peran besar dalam kemerdekaan negerinya di ranah internasional harus berpindah-pindah tempat tinggal. Dari kontrakkan sederhana di dalam gang sempit ke kontrakkan sederhana di gang sempit lainnya.

 

Pernah ada di suatu negeri, ketika para pengawai Kementerian Penerangan dengan suka hati mengumpulkan uang, patungan membelikan kemeja kerja agar Sang Menteri memiliki pakaian yang layak yang sesuai dengan posisinya sebagai pejabat negara. 2 kemeja kerja, sebanyak inilah yang dipunyai sang menteri selama menjabat.

 

Pernah ada di suatu negeri, seorang raja besar dengan penuh kewibawaannya, mengatakan dihadapan orang banyak bahwa ia tidak lagi memiliki apapun, setelah baru saja menyerahkan sisa harta yang dimiliki kerajaannya untuk modal keberlanjutan pemerintahan di negerinya.

 

Pernah ada di suatu negeri, ketika seorang ibu yang juga turut berjuang untuk kemerdekan negerinya sampai dua kali menolak jabatan sebagai seorang menteri. Sekalipun saat tawaran ini diberikan langsung oleh Sang Presiden.

 

Pernah ada di suatu negeri, ketika seorang panglima besar TNI yang baru saja menjalani operasi, memilih menjalani masa pemulihannya dengan bergerilya bersama pasukannya keluar masuk belantara Jawa, demi untuk mempertahankan keberadaan negerinya.

Pernah ada di suatu negeri, ketika para pemimpin negerinya saling beradu pendapat, berbeda ideologi, bahkan sampai sangat ingin melempar kepala lawan ideologinya dengan kursi. Namun dikesehariannya saat tidak sedang berdiskusi mempertahankan ideologinya masing-masing, mereka duduk dan meminum kopi bersama. Tak jarang bahkan selesai dari forum adu argumen, mereka pulang dengan berboncengan sepeda.

Semuanya nyata, pernah ada di suatu negeri. Sebuah negeri yang bukan negeri Uttara Kuru kalau kata Bung Karno, bukan negeri yang damai tempat tinggalnya, bukanlah negeri yang tidak ada rintangan dan masalah didalamnya, bukan juga negeri yang kehidupannya serba indah.

 

Mencintai Indonesia itu memang tidak mudah, tulis Dea Tantyo dalam Extraordinary. Kau harus mencintai tanah airnya, kondisinya, perbedaannya beserta luka-lukanya.