Umar Garda Depan Umat Islam

  • 3
    Shares

MANUSIA terbaik dan pemimpin yang berani dalam Islam ialah Umar bin Khattab.

Sosok manusia satu ini sangat terkenal tegas dan berani sehingga menyebabkan setan-setan menjauh dari jalan yang akan dilalui Umar. Ketegasannya yang sudah dikenal sejak zaman Jahiliyah sudah teruji sehingga menyebabkan Umar radhiyallahu anhu sangat mampu menggentarkan hati lawan bicaranya.

Maka beruntunglah ketika Umar radhiyallahu anhu masuk Islam, sebab keberaniannya digunakan untuk menolong dan menyelamatkan agama Allah.

Tapi sekuat dan setegas apapun Umar radhiyallahu anhu, ketika memimpin dirinya pernah meneteskan air mata melihat ada rakyatnya yang kelaparan. Dia tidak pernah merasakan tidur nyenyak melihat masih ada manusia yang harus menahan lapar karena sepanjang harinya perutnya tidak berisi makanan. Ini pernah terjadi ketika Umar radhiyallahu anhu menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk menghibur anak-anaknya yang menangis kelaparan karena tak lagi memiliki makanan. Pada saat itu juga, Umar sendirilah yang memikul sekarung gandum yang diambil dari gudang Negara.

Itulah dua sisi dalam kehidupan seorang pemimpin yang memiliki jiwa sebagai pelayan rakyat. Umar mencontohkan pemimpin tak perlu mendapatkan sanjung puji ketika akan memberikan bantuan kepada rakyatnya. Blusukan di kegelapan malam seolah menjadi saksi bahwa hanya langit dan bintang yang meliputnya. Tak perlu menunggu gegap gempita media yang bekerja melambungkan popularitasnya, sebab Allah sudah menjamin segala amal baiknya akan dihitung termasuk kesediaan pemimpin untuk menderita demi rakyatnya.

Sekali lagi kita memang sekarang ini merindukan sosok pemimpin terbaik seperti Umar radhiyallahu anhu di tengah keringnya keteladanan dalam kepemimpinan nasional. Ketika Umar radhiyallahu anhu menjauh dari hidup dengan rumah mewah, sekarang justru para pemimpin hidup dengan rumah dinas mewah yang berjejal di halamannya mobil-mobil dengan harga selangit. Saat Umar radhiyallahu anhu menjaga keluarganya dari memakai fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya, justru pemimpin sekarang memakai fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Saat Umar radhiyallahu anhu berhasil menekan angka kemiskinan, di zaman kepemimpinan sekarang rakyat miskin malah bertambah banyak sehingga menyebabkan dampak turunan berupa hutang negara membengkak dan kurs mata uang yang semakin merosot tajam.