Pembuktian Cinta Yang Sesungguhnya

  • 4
    Shares

Bismillaah,

Jika cinta laksana iman, maka ia tak cukup untuk sekedar dirasa dan diucapkan. Cinta butuh pembuktian, terlebih cinta dalam sebuah keluarga. Banyak cara ditempuh setiap orangtua dan setiap pasangan untuk membuktikan besar cinta yang mereka miliki terhadap anak dan pasangannya. Dan sebaik-baik pembuktian dari rasa cinta pada diri sendiri dan keluarga adalah dengan menjaganya dari siksa api neraka.

 

“Hai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim ayat 6)

 

Tidak sedikit penguasa yang mendidik dan menjadikan anak-anaknya untuk bisa menggantikan posisinya kelak. Ini salah satu bentuk cinta, ketika mereka para orangtua merasakan berbagai kemudahan dan kemewahan fasilitas melalui jabatan yang dipegangnya. Mereka tentu berharap agar anak-anaknya bisa merasakan kenikmatan seperti yang mereka rasakan.

 

Umar ibnu Khattab juga sama seperti para ayah kebanyakan, hanya menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Maka, ia menunjukkan rasa cintanya kepada anaknya, dengan cara yang berbeda.

 

Ia begitu geram, ketika para sahabat mengusulkan agar anaknya yang kelak melanjutkan tongkat estafet kekhalifahan setelah dirinya.

 

“Demi Allah, kalian keliru. Aku tak bermaksud menunjuk orang yang kau usulkan itu. Apa yang kau harapkan dari keluargaku untuk pekerjaan ini, sudah cukuplah dan dari keluargaku aku seorang diri saja yang akan diperiksa Allah dan yang akan ditanya tentang hal-hal mengenai umat Muhamad shallallahu ‘alaihi wassalam ini”, jawab Umar.

“Cukup aku saja yang menanggungnya, tidak anakku”, tegasnya.

 

Umar sebagai seorang ayah, sudah barang tentu sangat mengenali kepribadian dan potensi yang dimiliki anaknya. Abdullah ibnu Umar, anaknya bukan tidak memiliki kapasitas untuk menjadi seorang pemimpin. Ia punya, namun rasa cinta Umar kepada anak dan keluarganya membuatnya lebih ingin melindungi mereka dari berbagai fitnah kekuasaan kesusahan yang akan dihadapinya, saat dihari pembalasan kelak. Umar cinta, maka Umar melindungi yang dicintainya.

 

Hoegeng Imam Santoso, adalah nama beliau. Bapak Kapolri berbintang empat ini pernah meminta istrinya untuk menutup kios bunga miliknya, yang juga menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga, sehari sebelum ia diangkat menjadi Dirjen Imigrasi.

“Saat itu saya membuka toko bunga di garasi kami untuk menambah pemasukan”, kenang Merry Roeslani, istri beliau. “Waktu itu, bapak akan menjabat kepala imigrasi. Bapak meminta saya untuk menutup toko itu. Sudah 60 tahun saya bersama Mas Hoegeng, saya tahu sifatnya, mau ke mana arahnya,” ucap beliau.

 

Rupanya Hoegeng khawatir orang-orang yang membeli bunga nantinya merupakan relasinya di Imigrasi. Dia tak mau itu terjadi. Akhirnya istrinya bersedia menutup toko bunganya.

 

Sebagai istri Kapolri saat itu, Ibu Merry tidak menjabat sebagai Ketua Umum Bhayangkari. Hoegeng meminta pemegang jabatan itu dipilih dengan pemilihan.

 

Dari mereka semua kita belajar untuk mengenali bagaimana ciri seorang laki-laki sejati. Mereka yang berani berjanji untuk mencintai dan mereka mereka buktikan dengan melindungi dan mempertanggungjawabkan orang-orang yang dicintainya sampai akhir, saat berhadapan dengan Sang Maha Raja.