Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

  • 10
    Shares

Bismillaah,

“Fajar, 17 Agustus 1945, segera muncul di kaki langit sebelah timur. Kami saling memberikan ucapan selamat atas suksesnya tugas saat itu” kenang Ahmad Soebardjo. “Namun, dalam hati kecil saya masih tersisa sebuah kesadaran, tugas ini belum selesai. Kami harus memproklamasikan kemerdekaan dan, tentu saja, menyebarluaskannya”.

Memiliki kegelisahan yang sama. Bung Hatta seusai perumusan naskah proklamasi menyampaikan dengan lantang dihadapan para pemuda wartawan. “Saudara-saudara setiap hari sudah bekerja keras, tetapi saudara masih harus tetap melanjutkan sebuah tugas baru, yaitu memperbanyak teks proklamasi dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru Indonesia sebanyak-banyaknya,”

 

Apa guna membacakan proklamasi kemerdekaan jika tak diketahui rakyat dan tak didengar dunia?.

 

Maka para pemuda yang mendengar seruan Bung Hatta saat itu bersegera dan bersiap mengambil peran untuk melaksanakan sebuah tugas besar. Menyampaikan sebuah berita besar kepada dunia bahwa hari ini, Indonesia Merdeka!.

 

Satu jam sebelum Bung Karno dan Bung Hatta membacakan naskah proklamasi, beberapa pemuda di Kantor Berita Domai secara sembunyi-sembunyi menyiarkan berita proklamasi di antara berita-berita yang telah melewati Hodohan (sensor Jepang). Satu jam sebelumnya, hal ini sengaja dilakukan agar Bung Karno dan Bung Hatta (dengan keadaan terpaksa saat itu) untuk tetap membacakan naskah proklamasi dan juga agar seandainya tentara Jepang menghalangi proses pembacaan naskah proklamasi, beritanya sudah kadung tersebar.

 

Pemuda yang lainnya, Burhanudin Mohamad (BM) Diah, wartawan yang bekerja di harian Asia Raya. Pagi itu, ia kayuh sepedanya dengan cepat menuju Percetakan Siliwangi di Pecenongan. Berbekal tulisan tangan Sukarno yang dikantonginya, Diah memperbanyak teks proklamasi tersebut.

 

Disekitar kediaman Bung Karno juga telah dijaga oleh sekompi pasukan PETA. Sadar bahwa persenjataan PETA sangat terbatas, Barisan Pelopor yang bersenjatakan golok dan bambu runcing juga turut disiagakan.

 

Didalam kediaman rumah Bung Karno pun tidak kalah sibuknya. Sebilah bambu telah ditancapkan di halaman belakang, sebagai tempat sang saka merah putih, bendera yang baru saja selesai dijahit tangan dari kain hasil pemberian ini akan dikibarkan. Mikrofon dan pengeras suara hasil pinjaman juga telah siap. Para petugas upacara, tanpa seragam khusus atau atribut lainnya, mereka juga telah siap untuk mengibarkan bendera merah putih di udara.

 

Akhirnya pembacaan naskah proklamasi bangsa ini dapat berjalan dengan penuh kesederhanaan dan gotong royong.

 

Para pemuda sadar bahwa tugas ini belumlah berakhir. Hari-hari seusai pembacaan naskah proklamasi dihiasi mereka dengan bergerilya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia dan dunia akan peristiwa bersejarah bangsa ini.

 

Beberapa pemuda menyiarkan lewat surat kabar, poster dan pamflet. BM Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang berjuang lewat berita di surat kabar. Sementara rekan-rekan mereka yang lainnya, menempelkan poster di mana-mana. Mulai dari gedung, rumah penduduk hingga kereta api. Mereka mencoreti kereta api dengan tulisan-tulisan yang menggambarkan kemerdekaan Indonesia.

 

Akibat jasa mereka, berita mengenai pembacaan naskah proklamasi ini bisa diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia hingga ke luar negeri. Seorang wartawati SK Trimurti menjelaskan pada tanggal 18 Agustus 1945, sebuah kantor berita Amerika di San Fransisco telah memberitakan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.

 

Jika tidak mampu menjadi pohon beringin yang kokoh, maka jadilah rumput liar yang mengokohkan tanggul sungai. Jika tidak mampu menjadi jalan raya, maka jadilah jalan setapak yang membawa setiap orang menuju sumber mata air.

 

Mereka, para pemuda yang berkerja keras untuk menyebarkan berita tentang pembacaan naskah proklamasi, pada akhirnya mungkin tidak memiliki nama seterkenal Bung Karno dan Bung Hatta yang membacakan naskah proklamasi. Namun seperti keberadaan sebuah batu bata dalam rangka sebuah dinding. Adanya ia tidak nampak tertupi oleh indahnya cat yang meliputi semua permukaan dinding. Tapi kita tahu, tanpanya sebuah dinding tidak akan bisa berdiri kokoh. Tanpanya, mungkin sebuah dinding tidak akan pernah terbentuk.