Menjadi Panglima Besar dengan Bersikap Adil

Bismillaah,

Qutaibah bin Muslim, nama panglima besar ini. Ia dan pasukannya baru saja menduduki kota Samarkand, yang terletak di Uzbekistan. Atas penaklukkan ini, Samarkand termasuk kedalam daerah kekhalifahan Islam dengan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifahnya saat itu.

 

Selang beberapa hari setelah penaklukkan, Qutaibah bin Muslim dan pasukannya dijatuhi hukuman oleh Hakim Jumaiy bin Hadzir Al Baji, yang ditunjuk langsung oleh Sang Khalifah.

 

Apa yang terjadi?.

 

Singkat cerita, para pemuka Samarkand datang menemui khalifah untuk mengadukan suatu hal.

 

“Ya Khalifah, saya datang dari Samarkand untuk mengadukan suatu perkara dan meminta keadilan” kata perwakilan pemuka Samarkand.

 

“Bukankah dalam islam sebelum pasukan muslim menaklukan suatu wilayah, mereka akan memberikan 3 pilihan? Untuk masuk islam, jika tidak maka membayar jizyah, jika tidak maka berperang?” tanyanya.

 

“Begitulah Rasul kami mengajarkan”, jawab Khalifah

 

“Maka kami meminta keadilan atas apa yang dilakukan pasukan muslimin di Samarkand yang tidak lebih dahulu memberi kami pilihan tersebut dan langsung menyergap kami” adu sang pemuka Samarkand.

 

Mendengar aduan ini, Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera menulis surat dengan pesan singkat untuk diberikan kepada perwakilannya di Samarkand, “adililah antara Qutaibah bin Muslim dan masyarakat Samarkand”

 

Hari peradilan tiba, Qutaibah bin Muslim ditanya oleh Hakim tentang kebenaran aduan dari perwakilan pemuka Samarkand.

 

“Benar”, jawab Sang Panglima Qutaibah. “Namun saya punya alasan. Perang adalah penuh tipu daya, jika saya berikan pilihan, saya khawatir mereka akan punya kesempatan untuk membangung kekuatan. Sehingga kami kalah dari mereka. Oleh karena itu saya tidak memberikan pilihan dan langsung menaklukannya”, jelas Qutaibah.

Mendengar jawaban dan penjelasan Qutaibah, Sang Hakim kemudian menyatakan Qutaibah bersalah karena telah melanggar apa yang dianjurkan oleh Rasulullaah. Qutaibah dijatuhi hukuman untuk menarik mundur semua pasukannya dari Samarkand, dan mengulangi kembali penyerangannya sesuai dengan yang diajarkan Rasulullaah shallahu ‘alaihi wassalam.

 

Tanpa banyak bicara, Qutaibah melaksanakan hukumannya, ia tarik kembali semua pasukannya dari Samarkand, termasuk didalamnya Sang Hakim yang telah berubah status sebagai seorang prajurit. Qutaibah beserta pasukannya bersiap untuk mengulangi kembali penyerangannya.

 

Melihat ini para pemuka Samarkand keheranan. Apa yang terjadi sungguh jauh dari apa yang mereka perkirakan.

 

Bagaimana bisa gugatan bangsa yang kalah dimenangkan oleh Hakim?. Sementara sang hakim termasuk kedalam golongan mereka sendiri. Dan tidak tanggung-tanggung, yang dinyatakan bersalah adalah sang panglima besar mereka.

 

Bersikap adil bukanlah pekerjaan yang mudah. Hanya mereka yang mampu mengendalikan dirinyalah yang sanggup mengerjakan amal besar ini.

 

Menjaga sikap adil terkadang merupakan sesuatu yang berat, namun akan lebih berat ketika harus menjaga sikap adil di kala kezhaliman pernah menimpa. Akan ada dorongan lebih kuat untuk membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan serupa atau bahkan melampiaskannya lebih besar lagi.

 

Februari 1990, setelah 27 tahun lamanya bersemayam di penjara. Nelson Mandela akhirnya dapat menghirup udara bebas. Puluhan tahun ia dipenjara dengan perlakuan yang jauh dari kata manusiawi. Ia disiksa, pernah digantungkan dalam posisi kepala dibawah dan bahkan pernah dikencingi oleh sipir penjara.

 

Setelah akhirnya bebas dan terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan, ia menemui sipir penjara yang telah menyiksanya.

 

Dihadapan sang sipir yang sudah ketakutan akan pembalasan Mandela, ia dekati dan kemudian merangkul sipir penjara tadi. “Hal pertama yang ingin saya lakukan ketika menjadi presiden adalah memaafkanmu”, ucapnya.

 

Bersikap adil adalah pekerjaan orang-orang besar. Mereka yang mampu menjadi panglima besar atas dirinya dan menimpin prajurit-prajurit nafsu dan perasaanya.