Amunisi Cinta untuk Indonesia

  • 7
    Shares

Bismillaah,

 

“Peluru kita masih banyak!”, pekik Bung Karno. Bangsa ini masih punya banyak sumber daya manusia yang siap menopang Indonesia.

 

Jika dulu asa negeri ini pernah ada didalam kaos kaki Abdurrahman Baswedan, saat beliau menyembunyikan dokumen pernyataan sikap Mesir agar tidak diketahui oleh Belanda. Dokumen ini begitu berharga karena menjadi titik awal pengakuan dunia internasional akan keberadaan sebuah negara bernama Republik Indonesia.

 

Maka hari ini, asa negeri ini ada disetiap jiwa yang mengaku bertanah air Indonesia. Jadi seperti apa bumi pertiwi ini kelak akan dirancang dan ditentukan oleh para arsiteknya.

 

“Menjadi pemimpin berati menjadi arsitek”, ujar Adhyaksa Dault, “atas kesan indah yang siap dititipkan pada orang-orang yang akan hidup setelah mereka.”

 

Dan sejatinya setiap kita memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin. Karena pemimpin bukan hanya buah dari pelantikan. Memimpin adalah berbuat. Berbuat sekecil apapun untuk berguna. Bumi pertiwi telah menyajikan etalase para pahlawan sejati, mereka yang telah menulang sumsum antara kata dan perbuatan.

 

“Hanya ada satu negeri yang menjadi tanah airku”, ucap Bung Hatta, “Yaitu, negeri yang berkembang karena perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku”. Dimanapun dan sebagai apapun status kita saat itu, kontribusi untuk bangsa ini adalah suatu kebutuhan. Bukankah setiap kita adalah agen pembawa asa negeri ini?.

 

Bung Hatta dan Sjahrir telah mencontohkan. Saat diasingkan di Bandara Neira, tidak berlalu hari mereka kecuali dengan memberikan kontribusi. Mereka membuka sekolah untuk anak-anak setempat di rumah pengasingannya. Mereka sampaikan tentang kondisi Banda dan Indonesia saat itu yang masih dikuasai penjajah. Disekolah ini, setiap sore mereka tanamkan rasa nasionalisme terhadap tanah air ini.

“Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ini ada dalam hati para prajurit”, ucap tegas Sang Panglima Besar Jendral Soedirman. Badannya memang kurus dan ringkih terlebih ada TB yang telah mengerogoti paru-parunya. Tapi pernyataan dan sikapnya jelas tegas menggambarkan kebesaran tekad dan kekuatannya. Ia dengan sesekali ditandu oleh pasukannya, bergerilya keluar masuk belantara Jawa. Tubuh ringkihnya yang hanya berbalut sehelai mantel lusuh terbukti mampu mendesak pemerintah Belanda untuk duduk di meja perundingan, yang berakhir dengan angkat kakinya Belanda dari tanah Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. Dari beliau kita belajar bahwa ada yang lebih penting dari kekuatan fisik, yaitu kekuatan tekad.

 

Menjadi seorang pejabat negara tidaklah harus berpenampilan elit, meskipun peluang untuk menjadi lebih dari elit mampu dilakukannya.

 

Agus Salim sang diplomat nomor satu bangsa ini, yang telah membuat dunia internasional mengakui keberadaan Indonesia, bahkan hidup nomaden bersama keluarganya. Berpindah dari satu kontrakkan ke kontrakkan sederhana lainnya. Seorang mantan perdana menteri, dan pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan selama dua periode, Mohammad Natsir membuat para staff di kementerian dengan sukarela patungan untuk membelikan pakaian kerja yang layak untuk menteri nya.

 

Mereka mengajarkan bahwa sungguh tidak pantas meminta-minta pada bangsa ini, terlebih diketahui bahwa masih banyak rakyat yang mereka wakilkan di parlemen ini masih hidup dalam kesulitan.

 

Ada seorang perdana menteri yang melanjutkan jabatannya sebagai seorang menteri. Ada seorang ibu yang diminta langsung untuk menjadi menteri oleh Presiden langsung berkali-kali namun ditolaknya. Ada seorang Raja, yang tanpa memakai atribut dan meneriakkan status dirinya berkenan memikul berkarung-karung beras, dengan senyum tulus membantu seorang ibu yang tidak mengetahui gelar kerajaannya.

 

Bahwa mencintai adalah memberi. Dan memberi tidak harus dengan status sosial. Mereka mengajarkan bahwa mengampu sebuah jabatan bukanlah seperti dipakaikan seuntai kalung emas, melainkan rantai besi yang sangat berat. Darinya kita juga belajar bahwa ketika jabatan itu akhirnya berada digenggaman maka sejatinya kita telah memposisikan diri sebagai pelayan, yang mewakafkan dirinya untuk melayani siapapun mereka yang menjadi tanggung jawabnya.

 

“Banyak cara mencintai negeri ini. Pertiwi tahu mana yang sejati dan mana yang bukan. Tak usah pikirkan cinta yang lain, tapi pastikan cinta kita sendiri. Sekali merasa hanya kita yang cinta negeri ini (nasionalis?), sementara yang lain tidak, saat itu kita sedang khianati Pertiwi” (M. Sohibul Iman).