Teladan Persahabatan Sejati

  • 4
    Shares

Bismillaah,

Siapa yang tidak mengenal dengan sosok duo proklamator Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta. Nama keduanya bagaikan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, menyiratkan makna Dwitunggal, sebuah simbol dari persahabatan sejati.

 

Usia Soekarno dan Hatta hanya terpaut satu tahun, walau begitu keduanya bukanlah pribadi yang serupa. Dalam beberapa hal keduanya bahkan sangat terlihat kontras. Soekarno yang flamboyan, oratur ulung, ceplas-ceplos. Sedangkan Hatta yang pendiam, runut, dan tertib.

 

Latar budaya keduanya pun berbeda, Soekarno yang berasal dari Jawa memiliki budaya yang banyak diambil dari nilai-nilai suku Jawa. Sedangkan Hatta yang berasal dari tanah minang memiliki budaya merantau, melihat dunia lebih luas, yang menuntunnya hingga ke negeri Belanda.

 

Tipikal keduanya memang sangat berbeda. Soekarno adalah seorang solidarity maker yaitu seorang pemimpin yang pandai menarik simpati massa dan menggerakkan mereka untuk tujuan tertentu, sedangkan Hatta adalah seorang administrator yang ahli dalam penyelenggaraan negara.

 

Sama-sama memiliki kemampuan fikir yang cemerlang dalam upaya menyusun dasar sebuah negara baru, Indonesia. Ternyata Bung Karno dan Bung Hatta memiliki kemampuan yang berbeda dalam menjalin hubungan dengan seorang perempuan.

Jika Bung Karno dapat dengan mudah berbicara panjang lebar dengan seorang perempuan. Bung Hatta adalah sosok pemalu, dia digambarkan lebih mencintai buku dibandingkan perempuan. Bung Karno konon pernah berseloroh meledek Bung Hatta, katanya “jika Bung Hatta sedang berada didalam sebuah angkutan umum dan penumpang di dalamnya hanya ada Hatta dan seorang wanita yang sangat cantik. Tebak apa yang akan dilakukan Hatta? Hatta pasti sedang terpaku sedang membaca buku.”

Soekarno dan Hatta seperti koin berwajah dua. Satu tapi beda. Terlebih perbedaan dalam strategi dan orientasi politiknya. Puncaknya 20 Juli 1956, Hatta yang merasa tidak bisa mempertanggungjawabkan kebijakan politik yang diambil Bung Karno, memutuskan mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

 

Hari-hari setelahnya diisi keduanya dengan debat, saling serang argumen, ketidaksetujuan antara satu sama lain. Meskipun begitu, hal ini tidak membuat keduanya saling melupakan kebaikkan masing-masing.

 

Bung Karno dan Bung Hatta adalah teladan persahabatan sejati yang dimiliki bangsa ini. Dari keduanya kita belajar bahwa persahabatan sejati bukan karena tak pernah bertikai, tetapi karena tak pernah rela melepas tali persahabatan.