Jihad Sahabat Yang Hakiki

KATA jihad biasanya identik dengan perang fisik berbentuk kekerasan, senjata, peperangan dan pembunuhan. Dalam Islam, kata jihad sesungguhnya mengandung arti yang sangat mulia dan menempati level yang tinggi. Dikisahkan suatu hari di zaman Rasulullah terjadi perang Khandaq, dimana kondisinya umat Islam pernah ditantang Amr bin Abd Wad al-Amiri (salah satu pembesar Quraisy) yang sangat ditakuti. Menjawab tantangan itu, Rasulullah bertanya siapa sahabat yang mampu melawan tokoh kafir tersebut. Semua sahabat terdiam sampai kemudian Ali bin Abu Thalib maju ke depan. Melihat kondisi Ali yang masih muda, Rasulullah kembali bertanya kepada sahabat lain yang lebih senior hingga tiga kali bertanya, tapi ternyata hanya Ali yang berani melawannya.

Amr bin Abd Wad agak terkejut melihat lawannya hanya seorang anak “kemarin sore” yang masih muda. Dia kemudian tertawa keras dan mengejek lawan tandingnya itu. Tapi Ali tetap tenang dan tidak terpengaruh provokasi lawannya tersebut. Pertarungan sengit dimulai, dan Ali dengan lincah mampu menghadapi berbagai serangan musuhnya. Hingga akhirnya Amr bin Abd Wad tumbang ke tanah setelah mendapat sabetan pedang Sayyidina Ali.

Kemenangan Ali sudah di depan mata dan nyawa Amr bin Abd dipastikan akan melayang. Tapi tiba-tiba tokoh kafir itu meludah ke wajah Ali dan Ali memilih menyingkir dan melupakan niatnya membunuh lawannya. Sikapnya yang tak mau melakukan penyerangan terhadap Amr yang meludahi wajahnya menimbulkan tanda tanya. Para sahabat merasakan penasaran dengan sikap Ali yang memilih tidak membunuh musuhnya.   Beliau menjawab, ”Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya dalam kondisi marah. Aku tunggu sampai kemarahanku hilang dan membunuhnya karena Allah”. Penggalan kisah tersebut menjelaskan kepada kita mengenai hakikat jihad dalam islam.

Kita dapat melihat bagaimana Amr bin Abd Wad akhirnya gugur di tangan Ali dalam peperangan tersebut. Tapi proses peperangan ini memberi pesan bahwa perjuangan dan pembelaan Islam dibangun dalam landasan dan etika yang melebihi sekadar luapan kebencian dan kemarahan. Jihad ialah sesuatu yang agung dan melaksanakannya diniatkan karena Allah bukan dilandasi nuansa kebencian dan hawa nafsu semata.  Sungguh menghadapi nafsu diri sendiri yang tak tampak lebih berat dibandingkan menghadapi musuh di depan mata yang terlihat. Jihad ini akan selalu ada di mana pun dan kapan pun, selama hembusan napas kita dan sepanjang masa.