Romansa Cinta Para Pejuang

Adakah yang lebih romantis, dari surat cinta yang ditulis oleh seorang pria di masa perjuangan kemerdekaan kepada perempuan yang dicintainya, yang dalam surat pribadi itu terdapat selipan kata meredeka dengan huruf kapital besar dan tambahan tanda seru?.

 

bismillahirrohmannirrohiim, MERDEKA! Dinda sayang, terima kasih atas surat Dinda yang menyenangkan hati itu. Dalam keadaan yang sesungguhnya merupakan bala, masih juga dapat kita menyaksikan nikmat Allah yang dalam kesukaran dapat juga memberikan kelapangan.

 

Kanda seperti yang sudah kerap dinda katakan, rupanya diperlakukan Allah dengan istimewa, sebab itu baiklah kita bersyukur memuji Allah atas rahmat karunia-Nya yang terang terbukti dan dengan sabar menantikan dengan harap apa-apa takdir-Nya tentang itu.

 

Sementara itu yakinlah Dinda akan cinta kasih sayang kanda dan terimalah peluk ciumku dengan salam dan doa. Berkenaan dengan masa mendatang, tenangkan hati dengan harapan dan percaya kepada Allah Subhana wa ta’ala. Tetap sabar dan tawakal.”

 

Sebuah surat sederhana yang sangat manis dan menggambarkan keromantisan luar biasa dari penulisnya ini disalin dari buku Seratus Tahun Haji Agus Salim, terbitan Sinar Harapan tahun 1984. Agus Salim, sang bapak diplomat kebanggaan Indonesia ini menulis surat ini saat beliau tengah berjuang, menukar hidup demi kemerdekaan bangsa Indonesia, diasingkan di Berastagi. Sedangkan sang istri tercinta, Zainatun Nahar berada di Yogyakarta.

 

Jika menikah adalah menggenapi jiwa, maka potensi yang dimiliki oleh dua orang jiwa akan tergabung menjadi satu, dan satu menjadi lompatan tak terhingga.

 

Apa yang ada dibenak Suciwati saat ia dengan berani menerima lamaran seorang pemuda yang pada saat itu masuk kedalam jajaran atas blacklist pemerintah?, karena keberaniannya yang luar biasa dalam mengungkap borok penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Apa yang membuatnya sebegitu yakin, bahwa hidup bersama Munir, pemuda pemberani itu akan berjalan baik-baik saja kelak?.

 

Dikisahkan, pada awalnya sebanyak dua kali Suciwati menolak lamaran Munir. Bukan karena ketakutan akan masa depannya kelak jika bersuamikan Munir. Dua kali, wanita yang rela meninggalkan profesinya sebagai seorang guru demi memperjuangkan hak para buruh  ini menolak lamaran Munir dengan alasan ‘belum siap’ dan khawatir mengganggu. Takut mengganggu apa yang saat itu sedang mereka perjuangkan bersama: Hak Buruh Indonesia.

 

Dan cinta menunjukkan jalannya dengan jujur. Pasca menikah, baik Munir ataupun Suciwati tidak kehilangan sinarnya. Gabungan sinar keduanya semakin terang benderang, menerangi jalan apa yang mereka perjuangkan. Hingga kini, 14 tahun setelah kepergian suaminya, Suciwati tetap tegak berdiri, setia memperjuangkan apa yang menjadi hak suaminya sebagai seorang warga negara untuk mendapatkan keadilan dalam hukum.