Gempa dan Bencana Sebagai Tanda Kekuasaan Allah

SETIAP gejala alam menghadirkan banyak problematika dan hikmah dalam kehidupan, baik itu gejala alam tsunami, pemandangan alam yang indah, adanya gerhana matahari dan bulan. Rasa takjub diiringi kerendahan hati hadir disebabkan manusia sehebat apapun dia hanya mampu menikmatinya tanpa mampu menciptakannya. Mengapa manusia tak mampu menciptakannya? Ini disebabkan yang mampu menciptakan gejala alam itu hanyalah Allah SWT. Sementara manusia dengan segala ilmunya hanya kecil sekali di mata Allah yang memiliki ilmu sedalam lautan, seluas langit dan bumi.

Kita dapat melihat betapa lemahnya manusia dalam menghadapi banjir besar atau yang biasa disebut Tsunami. Begitu gejala tsunami menghantam sebuah negara, maka tersapulah segala yang ada di hadapannya. Tanpa ampun air bah menghantam mobil, rumah, manusia, perkantoran, gedung megah, dan semua yang ada di sekitarnya. Selain itu ada pula gempa bumi yang mampu mengguncang sebuah tempat atau desa sehingga seketika hilang dari penglihatan. Gempa menyebabkan kerusakan bangunan dan membuat panik manusia yang ada di sekitarnya. Kesombongan manusia yang mampu menciptakan segala kemewahan duniawi, hasil daya nalar akalnya dipadukan kecanggihan teknologi langsung sirna di hadapan kebesaran Allah.

Oleh karena itu, dalam menghadapi segala bentuk ujian baik suka dan duka yang diberikan Allah, gunakan kesempatan itu untuk menyadari kelemahan kita sebagai makhluk-Nya. Perbanyaklah menginstropeksi diri sendiri atas segala amal yang sudah dilakukan. Tanyakan kepada diri kita sudahkah segala amal ibadah seperti shalat, puasa, dan sedekah sudahkah melalui cara yang benar. Jangan sampai kita sibuk mencari pembenaran atas amal ibadah kita yang mungkin salah, sedangkan ketika diminta untuk meningkatkan kualitasnya. Merugilah manusia yang sombong dan selalu merasa benar ketika nasehat datang kepadanya.

Mulai sekarang perbaiki kualitas amal dan kehidupan kita agar selalu ingat bahwa Allah menciptakan kita untuk ibadah kepada-Nya semata. Iman Al-Ghazali pernah bertanya: “Apa yang paling besar di dunia ini?” Murid-muridnya menjawab, “Gunung”. Sebagian lagi menjawab “Matahari”, ada pula yang mengatakan “Bumi”. Imam Al-Ghazali dengan tenang mengatakan : “Semua jawaban itu benar, tapi yang jauh lebih besar ialah hawa nafsu. Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa kita ke dalam kemaksiatan dan jalan menuju neraka.”