Kisah Nabi Ya’qub as.

  • 4
    Shares

Dalam buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, kisah nabi Yaqub termasuk kedalam bab Keturunan Ibrahim bersama dengan kisah Nabi Ismail dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam.

 

Berita kelahiran Ya’qub datang bersamaan dengan berita kelahiran ayahnya, Ishaq. “Maka kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub” (QS. Al Huud ayat 71). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, berita gembira ini disampaikan langsung oleh para malaikat kepada Ibrahim dan Sarah, ketika mereka mampir ditempat keduanya saat hendak menuju Madain tempat kaum Luth.

 

Disebutkan saat berusia 40 tahun, Ishaq menikahi Rafiqa binti Batwabil. Dari istrinya, Ishaq mendapatkan dua anak yang kembar. Anaknya yang pertama bernama Aish, yang kemudian oleh bangsa Arab disebut sebagai Aish nenek moyang bangsa Romawi. Anak keduanya bernama Ya’qub. Beliau inilah Israil, yang menjadi asal usul nasab Bani Israil.

 

Dikisahkan bahwa hubungan antara Aish dan Ya’qub kurang baik, hingga akhirnya Rafiqa meminta kepada suaminya, nabi Ishaq untuk menyuruh Ya’qub pergi ketempat pamannya, Laban di Haran. Setelah tinggal beberapa lama di Haran, Yaqub muda meminta kepada pamanya agar menikahinya dengan putri bungsunya. Paman Ya’qub memiliki dua orang putri, yang satu bernama Laya dan adiknya bernama Rahil. Disebutkan bahwa Rahil memiliki wajah yang lebih cantik dari kakaknya.

 

Pamannya menerima permintaan Ya’qub dengan syarat Ya’qub harus menggembalakan kambing miliknya selama 7 tahun. Setelah batas waktu tersebut berlalu, Pamannya Laban membuat jamuan makan, mengundang orang-orang untuk makan dan menikahkan Ya’qub dengan putri sulungnya, Laya. Laya memiliki pandangan yang lemah, dan wajahnya tidak secantik Rahil. ‘Menikahkan anak perempuan yang lebih muda sebelum kakaknya, bukanlah tradisi kami. Jika kau ingin menikahi adiknya, silahkan kau kembali mengembalakan kambing selama 7 tahun’, jawab Paman Laban ketika Yaqub protes akan keputusannya menikahkanya dengan Laya, dan bukan dengan Rahil.

 

Ya’qub kembali mengembalakan kambing selama tujuh tahun, dan setelah itu ia dinikahkan dengan Rahil, adik dari istrinya. Saat itu menikahi dua wanita bersaudara lazim dilakukan. Namun kemudian aturan ini dihapus oleh syariat Taurat. dalam Tarikh Ath Thaari, disebutkan ‘Ya’qub menikahi dua wanita bersaudara’. Itulah maksud dari firman Allah dalam QS. An Nisaa’ ayat 23, “Dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi di masa lampau”.

 

Setelah menikahkan Ya’qub dengan Rahil, Laban kemudian menghadiahkan masing-masing budak perempuan kepada putrinya. Laya diberikan seorang budak bernama Zulfa, sementara Rahil diberi seorang budak bernama Balha.

 

Allah menghibur kelemahan fisik Laya dengan memberikan sejumlah anak yang lahir dari rahimnya. Ia adalah istri pertama yang melahirkan anak untuk Ya’qub. Anak-anaknya bernama Wabil, Syam’un, Lawai dan Yahudza. Karena cemburu belum bisa memberikan anak untuk suaminya, maka Rahil menyerahkan budak wanita miliknya untuk digauli Ya’qub. Balha kemudian hamil dan melahirkan anak yang diberi nama Nifatali. Laya kemudian juga menyerahkan budak miliknya, dari Zulfa lahirlah anak nabi Ya’qub yang bernama Jad dan Asyir. Setelah itu, Laya kemudian hamil dan melahirkan tiga anak, yang diberi nama Esakhar, Zablun dan Dina. Dengan demikian, Laya memiliki tujuh anak dari Ya’qub.

 

Rahil kemudian berdoa kepada Allah, memohon agar diberikan anak dari Ya’qub. Allah mendengar dan mengabulkan doanya. Rahil akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki agung, mulia, tampan yang diberi nama Yusuf. Dan dikemudian hari, Rahil juga akan melahirkan seorang anak yang diberi nama Bunyamin.

 

Dalam kitab Shahihain, Imam Bukhori menuliskan dari Abu Dzar, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun?’, ‘Masjidil Haram’. Jawab beliau. ‘Setelah itu masjid apa?’ tanyaku lagi. ‘Masjidil Aqsha’. Jawab beliau. ‘Berapa jarak pembangunan kedua masjid itu?’ tanyaku kembali. ‘Empat puluh tahun.’ Jawab beliau. ‘Setelah itu masjid apa lagi?’. ‘Setelah itu dimanapun kamu menjumpai waktu shalat, kerjakan (shalat tersebut), karena seluruh (bumi) adalah tempat shalat.’ jawab beliau

 

Menurut riwayat diatas, yang membangun Masjidil Aqsha adalah nabi Ya’qub, 40 tahun setelah Ibrahim dan Ismail membangun Masjidil Haram. Sebelumnya dikisahkan, saat perjalanan Ya’qub menuju kediaman pamannya di Haran. Ya’qub tertidur diatas ebuah batu, dalam tidurnya ia bermimpi melihat sebuah tangga yang terpasang dari langit ke bumi. para malaikat turun melalui tangga tersebut, Rabb Tabaraka wa Ta’ala berbicara kepadanya, Ia berfirman, ‘Sungguh Aku memberkahimu, memperbanyak keturunanmu dan Aku jadikan bumi ini untukmu serta keturunanmu sepeninggamu nanti’.

 

Saat terbangun Ya’qub merasa senang dengan mimpinya tersebut dan bernazar kepada Allah jika ia kembali pulang ke keluarganya, ia akan mendirikan sebuah tempat ibadah untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Ya’qub kemudian menghampiri batu tersebut, lalu ia beri tanda dengan minyak, ia memberi nama tempat tersebut sebagai Bait Eil, yang berarti Baitullah. Kelak diatas tempat ini, nabi Ya’qub membangun Baitul Maqdis.

 

Menjelang kematiannya, nabi Ya’qub mengumpulkan anak-anaknya dan berwasiat kepada mereka. “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah ayat 133).

 

*Tulisan ini merupakan ringkasan dari Buku Kisah Para Nabi, karya Ibnu Katsir.