Kisah Nabi Ibrahim as – 2

Melanjutkan kisah dari seorang insan mulia, yang mendapat gelar al khalil, yang Allah anugerahkan anak-anak yang shalih dan menjadikannya nubuwah serta kitab diantara keturunannya.

 

Dalam QS. Al Baqoroh ayat 258 dikisahkan tentang perdebatan antara nabi Ibrahim dengan seorang raja besar yang kafir. Para ahli tafsir, ahli nasab dan sejarah menyebutkan raja yang dimaksud adalah Raja Babilon yang bernama Namrud bin Kan’an bin Kausy. Para ahli menyebutkan, kekuasaan Namrud berlangsung selama 400 tahun. Ia bertindak semena-mena dan melampaui batas.

 

Zaid bin Aslam mengatakan, “Allah mengutus seorang malaikat untuk menemui raja lalim itu, menyerunya untuk beriman, namun si raja enggan beriman. Sampai malaikat menyeru untuk yang ketiga kalinya. Akhirnya malaikat berkata, ‘kumpulkanlah seluruh bala tentaramu, aku akan mengumpulkan golonganku’.

 

Namrud mengumpulkan seluruh bala tentaranya saat matahari terbit, sebelum mereka sempat melihat bulatan matahari. Allah mengirimkan sekawanan lalat seperti nyamuk. Allah menguasakan lalat-lalat tersebut atas mereka, memakan daging dan darah mereka. Mereka kemudian dibiarkan dalam wujud tulang-belulang rapuh. Seeokor lalat masuk ke hidung raja lalim itu, dan beratahan disana selama 400 tahun lamanya. Allah menyiksanya dengan lalat itu. Selama itu, ia memukuli kepalanya dengan tongkat kecil, hingga Allah membinasakannya karena seekor lalat.

 

Nabi Ibrahim memiliki seorang istri yang bernama Sarah. Disebutkan dalam hadits Isra’, bahwa Sarah adalah seorang wanita yang sangat cantik, “Yusuf diberi separuh keelokan rupa Adam, karena Allah menciptakan Adam langsung dengan tangan Nya, meniupkan ruh Nya padanya, sehingga Adam adalah sosok manusia yang paling rupawan. Tidak ada yang lebih tampan dari mereka berdua, seperti halnya tidak ada wanita yang lebih cantik setelah Hawa, melebihi Sarah, istri Ibrahim Al Khalil”

 

Namun setelah menikah sekian lamanya, Sarah belum bisa meberikan anak kepada nabi Ibrahim, untuk itulah Sarah memberikan seorang budak wanita miliknya yang bernama Hajar kepada nabi Ibrahim untuk digauli. Setelah beberapa waktu diketahuI Hajar hamil. Berita mengenai kehamilan Hajar membuat Sarah cemburu. Saat Hajar melahirkan Isma’il, kecemburuan Sarah semakin besar dan meminta Ibrahim untuk membawa mereka pergi.

 

Nabi Ibrahim kemudian pergi bersama Hajar dan bayinya. Keduanya ditempatkan di dekat Baitullah, didekat sebuah pohon besar, tepat diatas sumur zamzam, didataran atas masjid. Saat itu Mekkah tidak dihuni seorang pun, juga tidak ada air disana. Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan Isma’il disana dengan membekali mereka sekantung kurma dan geriba air. Setelah meninggalkan keduanya dan tiba di bukit Tsaniyah, nabi Ibrahim memanjatkan doa kepada Allah untuk Hajar dan Ismail sebagaimana yang tertulis didalam firman-Nya pada ayat ke 38 surat Ibraahiim.

 

Setelah beberapa waktu sepeninggalan nabi Ibrahim, persediaan air Hajar habis. Hajar kehausan dan seperti itu juga dengan Isma’il. Karena tidak tega melihat kondisi anaknya yang kehausan, Hajar kemudian berdiri dan dan berlari kecil menuju puncak bukit Shafa, dan melihat kearah sekitar apakah ada seseorang, namun tidak dilihatnya siapapun. Ia kemudian turun dari Shafa dan berlari kecil menghampiri bukit Marwa, lalu berdiri dipuncaknya untuk melihat apakah ada seseorang disekitar sana, namun ia juga tidak melihatnya. Hajar melakukan ini sebanyak tujuh kali.

 

“itulah sa’i orang-orang diantara Shafa dan Marwa” kata Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam.

 

Saat berada diatas bukit Marwa, Hajar mendengar suara, ia berkata dalam hati “diamlah”. Hajar pun berkata, “kami mendengar suaramu, jika kau bisa menolong, tolonglah kami!”. Ternyata dihadapannya berdiri malaikat ditempat zamzam berada. Malaikat itu lantas menhentakkan tumit-atau sayapnya- hingga air memancar, Hajar kemudian mengumpulkan air itu dengan tangannya dan memasukannya kedalam geriba air. Ia pun minum dan segera menyusui Isma’il kecil, kemudian malaikat itu berkata “janganlah engkau takut terlantar karena disini akan berdiri rumah Allah yang akan dibangun anak ini dan ayahnya, Allah tidak akan menelantarkan ‘keluarganya’.”

 

Pada mulanya Ka’bah berada diketinggian seperti bukit, kemudian banjir besar melanda hingga mengikis sebelah kiri dan kanannya. Kondisi Hajar tetap seperti ini hingga datang sekawanan kafilah dari Jurhum, dan melihat sumber air yang ada didekat Hajar. Mereka kemudian meminta izin kepada Hajar untuk singgah sementara didekat tempat Hajar. Hajar mempersilahkan.

 

Dalam riwyatnya Ibnu Abbas mengatakan, mereka singgah dan kemudian mengirim utusan untuk menemui keluarga mereka, hingga akhirnya semuanya berdatangan dan tinggal bersama-sama disana hingga beranak-pinak. Dan bersama merekalah Isma’il tumbuh dan belajar bahasa Arab.

 

Selang beberapa lama, Ibrahim datang untuk menemui Isma’il dan menyampaikan kabar tentang diperintahkannya nabi Ibrahim untuk membangun sebuah bangunan yang tinggi. As Suddi mengatakan, “saat Allah memerintahkan Ibrahim dan Isma’il untuk membangun Baitullah, keduanya tidak tahu tempatnya, Allah kemudian mengirimkan angin. Angin ini kemudian mengibaskan tempat disekitar Ka’bah hingga terlihat pondasi awalnya (QS. Al Hajj ayat 26). Dalam proses pembangunan Ka’bah, nabi Ibrahim berdiri diatas sebuah batu sementara Isma’il menyerahkan batu-batuan padanya. Dalam keadaan seperti itu keduanya mengucapkan doa, “yaa Rabb kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah ayat 127).

 

*Tulisan ini merupakan ringkasan dari Buku Kisah Para Nabi, karya Ibnu Katsir.