Kisah Nabi Ibrahim as – 3

  • 7
    Shares

Dalam QS. Ali Imraan ayat 65-68, Allah mengingkari pernyataan para Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang masing-masing dari mereka mengklaim bahwa Ibrahim Al Khalil memeluk agama dan syariat mereka.

 

“..padahal Taurat dan Injil diturunkan setelah dia (Ibrahim)?”, yaitu bagaimana mungkin Ibrahim memeluk agama Yahudi atau Nasrani sementara syariat yang diberlakukan untuk mereka terpaut rentang waktu yang sangat lama setelah nabi Ibrahim.

 

“apakah kamu tidak mengerti? Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.” Allah ‘azza wa jalla membersihkan nama Ibrahim Al Khalil untuk disebut sebagai orang yahudi atau Nasrani. Allah dengan tegas mengatakan, bahwa Ibrahim adalah seorang Muslim, seorang yang lurus, yang tidak termasuk orang yang menyekutukan Nya.

 

Nabi Ibrahim adalah manusia kesayangan Allah, hal ini disampaikan Allah melalui firman Nya dalam QS. An Nisaa’ ayat 125. “..Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.

 

Keistimewaan ini juga dimiliki oleh nabi kita, penutup para nabi dan pemimpin para Rasul. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyampaikan, “wahai semuanya, andai aku menjadikan seorang kesayangan diantara seluruh penduduk bumi, niscaya aku jadikan Ibrahim sebagai seorang kesayangan, dan sahabat kalian ini –beliau sendiri maksudnya- adalah kekasih Allah.”

 

Dalam Alqur’an, Allah menyebut pujian terhadap Ibrahim disejumlah tempat. Menurut salah satu sumber, pujian Allah untuk nabi Ibrahim disebutkan dalam 35 tempat, 15 diantaranya tertera dalam surat Al Baqarah. Ibrahim adalah salah satu dari lima rasul ulul ‘azmi (QS. Al Ahzab:7).

 

Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Saat itu beliau tengah menyandarkan punggungnya di Baitul Ma’mur – yang menjadi ka’bah bagi para penghuni langit ketujuh-, dimana setiap harinya dimasuki 70.000 malaikat, mereka beribadah disana dan tidak pernah kembali lagi hingga hari kebangkitan nanti.

 

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yang ditakrij oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah manusia pertama yang diberi pakaian kelak di padang mahsyar nanti. Saat semua manusia dikumpulkan dalam kondisi telanjang dan berkulup. Ini adalah salah satu keutamaan yang dimiliki oleh nabi Ibrahim, sang Khalil. Keistimewaan yang membuat seluruh manusia dari golongan pertama hingga kemudian merasa iri.

 

Pujian atas nabi Ibrahim juga disampaikan oleh setiap muslim dalam bacaan tasyahud disetiap sholatnya. Imam Bukhori meriwayatkan, dari Ka’ab bin Ajrah, ia menuturkan, “kami bertanya, ‘wahai Rasulullah bacaan salam untukmu sudah kami ketahui, sementara bagaimana kami bershalawat untukmu?’ Beliau menjelaskan, ‘ucapkan, ‘ya Allah limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia’.”

 

Beberapa sumber mengatakan, Ibrahim sakit dan meninggal pada usia 175 tahun, ada yang menyebutnya 190 tahun dan 200 tahun. Ibnu Hibban dalam riwaytanya mengatakan, Rasulullah bersabda, “Ibrahim dikhitan di Qadum pada usia 120 tahun dan setelah itu ia hidup selama 80 tahun.”

 

Muhammad bin Isma’il Al Hassani Al Wasitihi menyebutkan, “Ibrahim adalah orang pertama yang membelah sisiran rambut, orang pertama yang berkhitan, orang pertama yang menjamu tamu dan orang pertama yang beruban. Waallahu a’lam.

 

*Tulisan ini merupakan ringkasan dari Buku Kisah Para Nabi, karya Ibnu Katsir.