Kisah Nabi Ishaq as

  • 5
    Shares

Setelah sebelumnya disampaikan kisah Nabi Ismail, pada kesempatan kali ini kita akan bertemu dengan seorang anak mulia dari orang yang mulia, Ishaq bin Ibrahim al Khalil.

 

“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan diantara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash Shaffat ayat 112).

 

Berita gembira ini disampaikan langsung oleh para malaikat kepada Ibrahim dan Sarah ketika mereka mampir ditempat keduanya , saat hendak menuju Madain tempat kaum nabi Luth, untuk membinasakan mereka dikarenakan kekafiran dan kekejian mereka.

 

Nabi Ishaq lahir saat ayahnya, nabi Ibrahim berusia 100 tahun, tepat 14 tahun setelah kelahiran Ismail. Pada saat diberi kabar gembira berupa kelahiran Ishaq, Sarah berusia 90 tahun. Ketika para malaikat menyampaikan berita gembira itu pada Sarah, “kemudian istrinya datang memekik (tercengang)”, Sarah sedikit berteriak, “Lalu menepuk wajahnya” (QS. Adz Dzariyat ayat 29), Sarah merasa heran. “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua dan suamiku ini sudah sangat tua?” (QS. Hud ayat 72).

 

“Mereka (para malaikat) berkata, ‘Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya, Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih’”, (QS. Hud ayat 73).

 

Nabi Ibrahim juga tak kalah heran dengan berita gembira tersebut sekaligus merasa sangat senang sekali. “Dia (Ibrahim) berkata, ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu (dengan cara) bagaimana kamu member (kabar gembira) tersebut?’ (Mereka) menjawab, ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa’.” (QS. Al Hijr ayat 54-55)

 

Dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah memuji nabi Ishaq sebagai seseorang yang pandai, “(Kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang pandai (Ishaq)” (QS. Al Hijr ayat 53), “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Yaqub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi)” (QS. Shad ayat 45).

 

Berbeda dengan kisah ayahnya, dalam buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir tidak banyak ditulisakan mengenai kisah Nabi Ishaq ‘alaihissalam. Dalam buku ini, beliau -Ibnu Katsir- mengambil sumber utama dari Al Qur’an dan hadits-hadits mutawattir. Beliau juga memasukkan riwayat-riwayat yang bersumber dari kisah Israiliyat (kisah yang bersumber dari Ahli Kitab), namun beliau menampilkannya dengan menyampaikan secara jujur bahwa kisah tersebut bersumber dari kisah-kisah Israiliyat. Untuk penulisan ringkasan ini, kami mencoba untuk membuat ringkasan dari bagian-bagian yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits saja dan memilih untuk tidak menyertakan bagian yang berasal dari kisah Israiliyat.

 

*Tulisan ini merupakan ringkasan dari Buku Kisah Para Nabi, karya Ibnu Katsir.