Kisah Nabi Ismail as.

  • 9
    Shares

Berikut ini kita akan membahas kelebihan yang diberikan Allaah kepada keturunan nabi Ibrahim. Apa yang istimewa dari keturunan Nabi Ibrahim?. Salah satu diantaranya adalah setiap nabi yang diutus setelah nabi Ibrahim semuanya berasal dari keturunannya.

 

Ibrahim Al Khalil memiliki beberapa anak, beberapa yang paling dikenal diantara mereka adalah dua nabi dan rasul bersaudara, keduanya adalah yang paling tua dan paling mulia.

 

Yang paling tua diantaranya adalah Ismail bin Ibrahim al Khalil. Dialah yang disebut dalam QS. Ash Shaffat ayat 99-113 sebagai Adz Dzabih.

 

Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menyebutkan beberapa sifat baik yang ada pada nabi Ismail. Allah menjadikannya sebagai nabi dan utusan-Nya, membebaskannya dari semua tuduhan orang-orang bodoh dan memerintahkannya untuk beriman kepada apa yang telah Allah turunkan kepada hamba-hamba Nya yang beriman (para nabi dan rasul sebelumnya).

 

“Dan ceritakanlah Muhammad, kisah Ismail didalam Al Qur’an. Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi…” (QS. Maryam ayat 54-55)

 

“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya, aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar’” (QS. Ash Shaffat ayat 101-102). Dan seperti yang sudah kita ketahui bersama, Ismail muda menuruti ajakan ayahnya –untuk melaksanakan perintah Allah -dan berjanji pada sang ayah bahwa ia akan bersabar-. Ismail pun memenuhi janjinya untuk bersabar.

 

Disebutkan pada saat perintah penyembelihan Ismail, saat itu Ismail berusia 13 tahun. Dan pada saat itu, dialah satu-satunya putra yang dimiliki oleh Ayahnya, Ibrahim al Khalil.

 

Ulama nasab dan sejarah peperangan menyebutkan, Ismail adalah orang pertama yang menunggangi kuda. Sebelumnya kuda termasuk kedalam hewan liar, lalu dijinakkan oleh Ismail dan kemudian ia tunggangi. Sa’id bin Yahya Al Umawi menuturkan dalam Al Maghazi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “pergunakanlah kuda sebagai tunggangan, naiklah secara bergantian, karena ia adalah warisan ayah kalian, Ismail.”

 

Nabi Ismail juga adalah orang pertama yang berbicara menggunakan bahasa arab yang fasih. Nabi Ismail mempelajari bahasa Arab dari bangsa Arab ‘Aribah dari kabilah Jurhum, Amaliq dan Yaman yang singgah didekat Ismail kecil ketika beliau dan bunda Hajar ditempatkan di Mekkah oleh ayahnya, nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

 

Nabi Isma’il adalah bapak bangsa Arab, ialah cikal-bakal bangsa Arab dengan berbagai macam kabilah. Diantara keturunan Ismail tidak terdapat seorang nabi pun selain penutup dan pemimpin para nabi secara mutlak, kebanggaan anak-anak Adam di dunia dan akhirat. Ialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim Al Quraisy Al Makki.

 

Salah satu kisah nabi Ismail yang popular adalah kisah mengenai Nabi Ibrahim yang bertemu dengan istrinya. Ketika Ismail beranjak dewasa, ia menikah dengan seorang wanita dari Amaliq, lalu Ibrahim datang berkunjung disaat Ismail sedang tidak dirumah. Nabi Ibrahim bertemu dengan istri nabi Ismail, setelah itu ia menanyakan tentang kehidupan dan kondisi mereka. Istri Ismail menjawab, “kami ini manusia biasa, kami menghadapi kesempitan dan kesulitan”, ia mengeluh didepan Ibrahim. Ibrahim kemudian mengatakan, “setelah suamimu pulang nanti, sampaikan salamku padanya, dan katakan padanya agar ia mengganti ambang pintu rumahnya”.

 

Setelah Ismail pulang, istrinya kemudian menceritakan tentang kunjungan seorang laki-laki tua yang datang kerumahnya, dan menyampaikan pesan yang dititipkan kepadanya untuk suaminya. Setelah mendengar pesan dari ayahnya, Ismail kemudian berkata, “Dia itu ayahku, dan beliau menyuruhku untuk menceraikanmu. Maka pulanglah engkau ke keluargamu”. Israil menceraikan istrinya, kemudian menikah dengan wanita lain.

 

Selang beberapa waktu, Ibrahim kembali berkunjung ke rumah Ismail. Namun saat datang, Ismail sedang tidak dirumah, hanya ada istrinya. Maka Ibrahim kemudian menanyakan pertanyaan yang sama yang pernah ditanyakannya kepada istri Ismail sebelumnya. Istri Ismail menjawab, “kami baik-baik saja dan kehidupan kami lapang”, ia juga memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Ibrahim kemudian menitipkan pesan kepadanya untuk Ismail, “setelah suamimu pulang nanti, sampaikan salamku padanya, dan katakan padanya agar ia memperkuat ambang pintu rumahnya”. Setelah Ismail pulang, istrinya menyampaikan pesanyang dititipkan padanya. Ismail kemudian berkata “Dia itu adalah ayahku, dan yang dimaksud ambang pintu itu adalah kamu. Beliau menyuruhku untuk mempertahankanmu sebagai istri.”

 

Imam Bukhori meriwayatkan, Rasulullah saw memberikan doa perlindungan kepada Hasan dan Husain, “sungguh ayah kalian berdua; Ismail dan Ishaq, juga berlindung kepada Allah dengan doa ini: ‘aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dan dari semua syaitan, binatang berbisa dan tatapan mata yang jahat’”

 

*Tulisan ini merupakan ringkasan dari Buku Kisah Para Nabi, karya Ibnu Katsir.