Orang Baik

  • 2
    Shares

“Cerita bisa sederhana, tapi makna bisa amat mendalam” (Anies Baswedan)

 

Bismillaah,

Ada orang-orang baik, yang membuat kita mengingatnya setiap kali ada kebaikan di sekitar kita. Adakah yang pernah mengalami seperti ini?. Jika belum, ayo kita cari dulu sosok orang-orang baik yang kebaikannya akan kita ingat dan semoga bisa menggerakkan diri untuk meneladani.

 

Suatu hari di tahun 1946, tahun ketika ibu kota Republik Indonesia berpindah ke Yogyakarta. Ada sebuah kejadian yang menghebohkan beberapa warga yang saat itu sedang berada di sekitar Pasar Kranggan, Yogyakarta. Warga membentuk kerumunan besar. Setelah diselediki ternyata ada seorang wanita pedagang beras yang baru saja jatuh pingsan di depan pasar. Alasan yang membuat warga membentuk kerumuan besar bukan karena ada seorang wanita yang jatuh pingsan, melainkan penyebab wanita ini jatuh pingsan didepan pasar

 

Kisah ini disaksikan langsung oleh SK Trimurti, istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi. Dalam buku ‘Takhta Untuk Rakyat’, wanita yang merupakan Menteri Tenaga Kerja pertama Republik Indonesia ini menceritakan kisah tentang salah satu orang baik yang bisa kita ingat kebaikannya dan kita teladani.

 

Saat itu, ibu Trimurti sedang dalam perjalanan pulang, dari Jalan Malioboro ke utara menuju ke rumahnya di Jalan Pakuningratan (Utara Tugu). Ketika sampai di depan Pasar Kranggan beliau mendengarkan cerita dari salah seorang yang ikut berkerumun disana.

 

Ceritanya bermula ketika wanita pedagang beras ini memberhentikan mobil jip untuk menumpang ke Pasar Kranggan. Wanita ini berasal dari Kaliurang, dan sudah biasa melakukan perjalanan dengan menumpang kendaraan yang datang dari utara menuju ke selatan, dan pulangnya pun juga dilakukan dengan cara yang sama dari arah sebaliknya. Wanita pedagan beras ini hafal betul berapa ongkos untuk satu kali menumpang dengan jarak yang biasa ia tempuh.

 

Mobil jip berhenti tepat didepan wanita pedagang ini, seperti biasa pula wanita ini meminta si sopir untuk mengangkat barang bawaannya, karung beras yang entah berapa banyak jumlahnya agar bisa di naikkan kedalam mobil. Sopir ini tanpa banyak kata, menuruti apa yang diperintahkan wanita pedagang ini.

 

Sesampainya di Pasar Kranggan, sopir ini turun dan kembali menuruni semua karung beras, barang bawaan wanita pedagang. Setelah selesai, wanita pedagang ini segera menyerahkan uang ongkos dengan jumlah seperti biasa ia berikan kepada sopir lainnya. Dengan ramah dan santun sopir ini menolak pemberian wanita pedagang. Pembayarannya ditolak, wanita pedagang ini marah karena mengira si sopir meminta ongkos lebih dari biasanya.

 

Sopir ini kembali hanya tersenyum dan kemudian pamit. Sang sopir segera menjalankan mobil jipnya meninggalkan pasar. Masih dalam keadaan marah dan bingung, pedagang wanita ini didekati oleh seorang mantri polisi yang sedari tadi mengamati.

 

“Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?” tanya bapak polisi.

“Sopir ya sopir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang sopir satu ini agak aneh.” jawab pedagang wanita emosi.

“Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, raja di Ngayogyakarta ini”. ucap sang polisi yang membuat wanita pedagang tadi jatuh pingsan seketika.

 

Negri ini tumbuh subur dengan siraman keteladanan dari para pemimpinnya. Mereka yang menjiwai makna bahwa seorang pemimpin adalah pelayan, yang mewaqafkan diri untuk melayani siapapun mereka yang menjadi tanggung jawabnya.

 

Mungkin saat ini, cara terbaik bagi kita menyalurkan rindu pada mereka para Founding Father negeri ini bukan hanya sekedar lewat doa. Tapi juga dengan meniru kebaikan-kebaikan dari mereka yang kita rindukan.